taken from Nakita

Kesundulan dalam hal ini bisa diartikan sebagai jarak kehamilan yang terlalu dekat. Sebutan lain untuk keadaan ini adalah “hamil membumbung”. Hal ini bisa terjadi walaupun siklus haid ibu belum normal. Terutama jika setelah masa nifas 40 hari suami-istri sudah kembali melakukan hubungan intim. Masalahnya, pada masa itu banyak ibu yang mengabaikan masa suburnya karena merasa telah melakukan KB alamiah dengan menyusui si kecil. Padahal, ASI hanya efektif sebagai pencegah kehamilan jika diberikan secara eksklusif (pemberian 100% ASI tanpa asupan lain).

Jika pemberian ASI kurang dari 90%umpamanya saat bayi berusia 3 bulan ibu memberikan susu formula di siang hari (karena ibu bekerja) dan hanya menyusui di pagi dan malam hari berarti proteksi ASI sebagai KB alamiah sudah tidak efektif lagi. Jika ibu tidak menyusui eksklusif maka sel telur ibu akan kembali dan matang siap dibuahi. Selanjutnya bila ada sperma yang “datang” maka dapat terjadi pembuahan.

PERHATIKAN KONDISI

Lalu apa yang mesti dilakukan ibu, jika terjadi “sundulan”? Umumnya ibu mesti berhenti menyusui, karena gizi ibu diperlukan oleh janin yang baru tumbuh. Inilah salah satu kerugian “kesundulan”, yakni si kakak jadi tidak bisa memperoleh ASI eksklusif. Untuk itu, perhatikan asupan gizi bayi dengan mengonsultasikan-nya pada dokter anak.

Kondisi ibu yang belum pulih sehabis melahirkan dan risiko anemia akibat perdarahan saat persalinan juga mesti diperhatikan. Begitu pun cadangan kalsium yang selama kehamilan dan masa menyusui telah “dikuras” oleh bayi. Berkaitan dengan ini secara umum kondisi gizi ibu sebenarnya belum kembali seperti sediakala, sehingga ada risiko ibu dan janin mengalami kekurangan gizi. Solusi untuk masalah ini umum-nya dengan pemberian asupan vitamin/suplemen. Umpamanya, di awal-awal kehamilan, ibu hamil mengonsumsi asam folat serta vitamin penambah darah.

Soal kesiapan organ-organ kehamilan, tak perlu terlalu dikhawatirkan. Setelah 40 hari “turun mesin” atau masa nifas dilewati, maka rahim sudah kembali ke bentuk semula dan siap untuk kembali hamil kok. Namun ibu perlu mempersiapkan fisik yang prima. Bukankah ibu punya bayi yang masih membutuhkan perhatian ekstra? Hal ini tentu akan mengurangi waktu istirahat dan dapat berpengaruh pada kesehatan. Jadi ibu harus pandai mengatur waktu tidur. Mitos yang mengatakan wanita dengan bayi baru lahir atau wanita hamil tidak boleh tidur siang, sudah selayaknya diabaikan. Upayakan ada orang yang bisa membantu merawat bayi, apakah pengasuh, pembantu, kerabat, atau orangtua.

Ibu hamil yang sering harus menggendong bayi pun berpeluang menderita varises di kaki atau vagina. Kondisi tersebut bisa menimbulkan masalah perdarahan saat persalinan karena tekanan berlebihan pada pembuluh darahnya. Solusi untuk hal ini, cegah faktor lain yang memungkinkan bertambah “parah”nya varises dengan men-cegah peningkatan tekanan dalam perut, antara lain hindari mengedan saat BAB, (minum banyak, cukup sayur agar BAB lunak). Hindari penggunaan alas kaki dengan hak tinggi, minimalkan frekuensi gendong bayi. Jika terjadi varises, dokter dapat memberikan pengobatan yang diperlukan sesuai kondisi yang ada.

BAGI IBU SESAR

Bagi ibu yang melahirkan secara sesar, penting untuk mengonsultasikan masalah “kesundulan” ini pada dokter kandungan. Pada beberapa keadaan, mungkin saja dokter akan menganalisis apakah keha-milan ibu tersebut bisa dilanjutkan atau tidak berdasarkan riwayat persalinan sebelumnya. Umumnya yang jadi pertimbangan adalah riwayat persalinan dengan cara sesar. Apalagi jika operasi sesar sebe-lumnya mengalami komplikasi.

Salah satu hal yang menjadi pertimbangan adalah bekas sayatan luka operasi yang sebenarnya butuh waktu untuk pulih. Bila dilihat dengan USG, ketebalan segmen bawah uterus atau rahim yang aman adalah di atas 4-5 mm. Bekas sayatan operasi yang masih tipis atau kurang dari 4 mm (defect atau lokus minoris) rentan akan masalah. Misalnya, peregangan yang berlebihan pada luka bekas sayatan operasi (akibat usia kehamilan yang terus bertambah dan adanya kontraksi) berisiko menyebabkan rahim robek. Kondisi yang dikenal dengan istilah ruptura uteri atau robeknya dinding rahim ini umumnya diantisipasi dengan mengeluarkan bayi sesegera mungkin (pada usia 8 atau 8,5 bulan) agar tidak terpapar regangan yang mungkin membahayakannya. Komplikasi ruptura uteri bersifat fatal. Mengancam nyawa ibu dan bayi.

Bagaimanapun kehamilan yang diperoleh seorang wanita merupakan karunia Yang Maha Esa. Tugas ibu adalah menjalani pemeriksaan kehamilan sesuai anjuran dokter untuk meminimalkan kemungkinan kelainan. Namun tenang saja, karena pada umumnya kehamilan dapat dilanjutkan dengan baik sampai bayi lahir.

“PUASA” Dulu

Masa nifas sama halnya dengan masa haid yang merupakan masa terlarang bagi hubungan suami istri. Mengapa? Pada kondisi ini, rahim yang sebelumnya membesar akan “menciut” menjadi lebih kecil. Selama proses pengecilan rahim ini juga terjadi pengeluaran darah. Pembuluh darah rahim dari dasar dinding ke permukaan dinding rahim saat itu pun sedang dalam keadaan terbuka sehingga risiko untuk masuknya kuman, bakteri atau virus semakin besar. Ini berarti peluang infeksi makin terbuka lebar jika selagi nifas ibu melakukan hubungan intim