Akibat menurunnya daya tahan tubuh, ibu hamil dan bersalin rentan terkena infeksi. Tentunya infeksi yang terjadi ini bisa berpengaruh pada janin maupun ibu

Banyak cara bisa dilakukan untuk mencegahnya. Antara lain dengan menjaga kebersihan tubuh sehari-hari, mencuci tangan sebelum makan, memerhatikan kebersihan makanan; mempertahankan sistem kekebalan tubuh agar tetap terjaga baik dengan mengonsumsi makanan bergizi, olahraga yang diperbolehkan untuk ibu hamil, serta istirahat yang cukup.

Lakukan pula deteksi dini infeksi saat hamil, karena sering kali gejalanya tak kasat mata sehingga perlu pemeriksaan darah di laboratorium. Jika sudah terjadi infeksi, lakukan pengobatan dengan baik di bawah pengawasan dokter. Persalinan pun harus dilakukan di tempat yang sesteril mungkin serta sedapat mungkin persalinan ditolong oleh tenaga medis (bidan, dokteratau dokter spesialis) di rumah bersalin atau rumah sakit.

INFEKSI SEBELUM/SEMASA HAMIL

Umumnya, infeksi pada ibu hamil lebih dikenal dengan infeksi TORCH, yang terdiri dari toksoplasma, others (clamidia, dan lain-lain), rubela atau campak jerman, cytomegalovirus dan herpes simpleks. Selain itu, ada juga infeksi staphylococcus yang kemudian lebih dikenal dengan istilah ACA (anticardiolypin). Ada lagi infeksi yang disebabkan clamidia yaitu sejenis virus, namun infeksi ini tidak banyak terjadi di Indonesia.

TOKSOPLASMA

* Penyebab:

Ada anggapan selama ini bahwa ibu hamil tak boleh memelihara binatang seperti kucing, anjing, dan lainnya karena bisa menyebabkan toksoplasmosis.Sebetulnya yang jadi penyebab infeksi toksoplasma adalah cysts atau oocystsyang hidup setelah melalui suatu siklus pada binatang kemudian baru berpindah pada manusia. Contoh, kotoran kucing yang kering dan mengandung oocystsbercampur debu tertiup angin dan jatuh di rerumputan, kemudian rumput tersebut dimakan oleh kambing. Nah, daging kambing tersebut jika tidak dimasak matang masih mengandung cyst hidup. Ibu hamil yang mengonsumsi daging tak matang itu berisikomengidap tokso. Maka itu, ibu hamil harus mengonsumsi daging yang dimasak matang karena cysts-nya akan mati. Selain itu, oocyst ini juga bisa terbang bersama debu tertiup angin dan hinggap pada makanan kita atau makanan yang ada di pinggir jalan, misalnya. Jadi, ibu hamil jangan makan di sembarang tempat yang kemungkinan besar terkontaminasi oocysts.

Pada dasarnya, cysts hidup dalam siklus hewan yang ada di darat, bukan hewan yang hidup dalam air. Jadi, untuk daging ikan mentah, belum terbukti apakah berisiko menimbulkan toksoplasma. Risiko terinfeksi toksoplasma juga terdapat pada transfusi darah, kesalahan laboratorium dan transplantasi organ.

* Gejala Klinis:

Sebagian besar tidak tampak secara kasat mata, namun demikian juga ditemukan seperti gejala flu biasa tergantung strain virusnya, usia, dan derajat imunitas tubuh/daya tahan tubuh.

* Diagnosis:

Diketahui setelah pemeriksaan darah di laboratorium. Yang diperiksa adalah antibodinya bukan kumannya. Terbentuknya antibodi diawal infeksikurang lebih 2 minggu kemudian terbentuk IgA, sedangkan IgM akan terbentuk lebih awal dan bisa bertahan sampai 6 bulan, IgG terbentuk kemudian dan bertahan lebih lama sampai 24 bulan.

Pemeriksaan serologik pada wanita hamil trimester awal (1) didapatkan IgG positif, IgM negatif, maka perlu diulang 3 minggu kemudian, dan bila didapatkan kenaikan 4 kali lipat berarti adanya reaktivasi/kambuh. Sedangkan bila IgG dan IgM positif dan aviditasnya < 0,3 menunjukkan infeksi saat hamil dan perlu pengobatan. Sebaliknya bila > 0,3 kemungkinan besar infeksi lampau, perlu pemeriksaan pada bayi yang dilahirkan. IgG dan IgM yang ditemukan negatif, tetap dianjurkan pemeriksaan ulang pada trimester III (28-40 minggu).

* Pengobatan:

Normalnya, bila hasil pemeriksaan kadar antibodi IgG maupun IgM negatif, berarti tak ada toksoplasma. Jika IgM bernilai positif dan IgG positif maka harus diterapi, karena berarti ada infeksi. Jika hasil aviditas < 0,3 berarti infeksi sebelum terjadi kehamilan, sedangkan > 0,3 berarti terjadi infeksi saat hamil, maka perlu terapi yang adekuat.Jika ada peningkatan kadar antibodi sampai 4 kali secara kuantitas, berarti ada kuman yang aktif kembali dan perlu diterapi dengan pemberian obat-obatan antibiotika tertentu yang aman untuk masa hamil. Pengobatan dilakukan selama 3 bulan.

* Pencegahan:

Idealnya, pemeriksaan toksoplasma dilakukan pranikah/hamil, dengan anggapan sesudah menikah tentunya nanti akan hamil. Jadi, untuk mendapat keturunan yang baik harus dipersiapkan sejak awal. Sehingga ibu tahu kapan boleh hamil dan tidak, serta kapan dilakukan pengobatan jika memang ada tokso. Jika pemeriksaan tidak dilakukan sebelum hamil, paling tidak dilakukan saat hamil. Hanya saja pemeriksaan toksoplasma relatif jarang dilakukan kecuali ada indikasi semisal ada riwayat keguguran dan kecacatan bayi yang dilahirkan, hal ini terjadikarena pertimbangan biaya dan insiden kejadiannyamasih dianggap sedikit.

RUBELA (CAMPAK JERMAN)

* Penyebab:

Virus yang ditularkan melalui kontak udara maupun kontak badan. Virus ini bisa menyerang usia anak dan dewasa muda. Pada ibu hamil bisa mengakibatkan bayi lahir tuli.

* Gejala Klinis:

Suhu tubuh panas dan bercak merah di kulit serta terasa gatal. Bila keganasan virusnya rendah, adakalanya tidak tampak gejala klinis.

* Diagnosis:

Ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang timbul, dan dari pemeriksaan darah di laboratorium dengan melihat kadar antibodi IgG dan IgM-nya terhadap rubela.

* Pengobatan:

Masih ada kontroversi, apakah harus diterapi atau tidak. Jika ibu pernah terkena rubela di usia 15 tahun, kemudian menikah di usia 20 tahun, kadar IgG-nya positif. Hanya saja apakah antibodi IgG-nya ini protektif ataukah tidak? Jika dianggap protektif, maka tak perlu diterapi. Bila dianggap tidak protektif, tentu perlu diterapi dengan obat-obatan antiviral selama 3 bulan. Ada pula ahli yang berpendapat bahwa obat virus tidak ada gunanya, tetapi yang penting imunitas tubuhnya ditingkatkan.

* Pencegahan:

Lakukan vaksinasi Rubela pada penderita yang belum pernah terinfeksi atau kadar antibodinya IgG negatif dan melakukan tes darah paling tidak 3 bulan sebelum kehamilan.

SITOMEGALOVIRUS

* Penyebab:

Virus ini dapat bersumber dari tenggorokan, ludah, lendir mulut rahim, sperma, atau transfusi darah. Akibat dari infeksi virus ini bisa menyebabkan keguguran spontan, infeksi pada janin sehingga menimbulkan kelainan bawaan. Penularannya lewat kontak dengan penderita.

* Gejala Klinis:

Hampir sama dengan terkena serangan flu biasa.

* Diagnosis:

Terdeteksi lewat pemeriksaan Imunoglobulin M (IgM) dan CMV kultur atau biakan virus Cytomegalovirus.

* Pengobatan:

Dengan obat-obatan antiviral selama 3 bulan. Angka kejadian infeksi sitomegalovirus ini rendah di Indonesia.

* Pencegahan:

Hindari kontak secara langsung atau berhubungan seksual tanpa perlindungan.

HERPES SIMPLEKS

* Penyebab:

Virus yang ditularkan lewat kontak badan dan seksual. Infeksi bisa tertular pada bayi di saat proses persalinan, karena ada gesekan dengan alat kelamin ibu.

* Gejala Klinis:

Suhu tubuh panas dan timbul gelembung/bintil-bintil kecil berisi cairan kemerahan dan sakit pada alat kelamin. Karena kondisi tubuh sedang lemah, kuman lain dapat numpang sehingga dapat menyebabkan infeksi sekunder pada paru-paru, dermatitis, dan lainnya.

* Diagnosis:

Dari hasil pemeriksaan antibodi, bila hasilnya< 0.90 = negatif dan> 1.10 = positif

* Pengobatan:

Dengan obat-obatan antiviral yang diberikan selama 3 bulan.

* Pencegahan:

Apabila ibu hamil terinfeksi virus ini, maka agar bayi tidak terinfeksi sebaiknya dilakukan operasi sesar.

CLAMIDIA

* Penyebab:

Virus. Wanita hamil bisa terinfeksi melalui hubungan seksual atau dari lingkungan yang kurang bersih. Pemeriksaan dilakukan dengan memeriksa antibodinya.

* Gejala Klinis:

Biasanya tanpa gejala klinis. Hanya saja sering kali hamilnya susah, karena adanya perlengketan pada organ-organ wanita, semisal perlengketan alat saluran telur dengan organ sekitarnya, atau perlengketansaluran telur pada rahim, dan lainnya.

* Indikasi:

Dari hasil pemeriksaan antibodi ibu. Satuannya IU/ml. Jika hasilnya < 0,90 = negatif; >1.10 = positif

* Pengobatan:

Pemberian obat-obatan antivirus, bisa sekitar 3 bulan.

* Pencegahan:

Pemeriksaan dini pada awal kehamilan sangat membantu penanganan.

ACA (ANTICARDIOLYPIN)

* Penyebab:

Staphylococcus mengakibatkan kekentalan darah yang dapat berpengaruh pada penurunan kemampuan berbagai organ tubuh. Gangguan ini sebetulnya tak hanya terjadi pada ibu hamil saja.

* Gejala Klinis:

Mirip dengan yang dialami ibu hamil seperti cepat lelah, mengantuk, sering pusing, dan sulit konsentrasi. Serta gejala yang harus dicermati yaitu peningkatan tekanan darah tanpa sebab yang pasti.

* Indikasi:

Dengan pemeriksaan antibodi. Tergolong mild jika IgG-nya berkisar antara 15-20, moderate bila antara 20-80, dan tinggi jika kadarnya di atas 80. Semakin tinggi kadarnya, kian besar pula risiko terjadi keguguran. Pemeriksaan laboratorium dilakukan setiap 6 bulan sekali.

* Pengobatan:

Terapi dengan obat-obatan dalam dosis yang tepat. Bila kadar antibodi antiphospholipid masih dalam batas yang dianggap “aman”, pengobatan cukup berupa tablet sejenis aspirin. Bila dari hasil pemeriksaan berikut kadar antibodi antiphospholipid tetap atau bahkan meningkat, pemberian obat dibarengi suntikan heparin atau fraksiparin maupun suntikan lain sejenis yang harus dilakukan setiap hari. Suntikan tersebut relatif aman untuk wanita hamil karena terbukti tak menembus barier plasenta.

* Pencegahan:

Hindari infeksi staphylococcus seperti infeksi tenggorokan. Hindari penularan lewat batuk, misalnya. Periksa segera bila mengalami flu yang tidak sembuh setelah terapi diberikan. Konsultasikan dengan dokter, dan periksa sebelum atau saat hamil.

INFEKSI SAAT BERSALIN

* Penyebab:

Adanya kuman yang masuk semisal karena dilakukan pemeriksaan dalam tanpa keadaan yang steril, juga akibatketuban pecah dini sebelum proses persalinan.

* Gejala Klinis:

Suhu tubuh ibu panas, detak jantung janin cepat, begitu pula dengan detak jantung ibu, air ketuban hijau kental dan berbau. Hal ini bisa membahayakan kondisi ibu dan janinnya bila tidak segera melahirkan.

* Penanganan:

Jika ditemukan keadaan sangat gawat, bayi harus segera dilahirkan. Tentunya tergantung kondisi ibu saat itu. Jika sudah waktunya mendekati persalinan, dilakukan tindakan vakum atau forsep. Jika masih jauh waktunya dari persalinan, akan dilakukan operasi meski dengan risiko bayi lahir prematur. Masalah operasi ini memang masih kontroversial. ada kontroversi. Jika dalam keadaan infeksi dilakukan operasi, luka pada tubuh ibu bisa memicu terjadinya sepsis. Namun jika bayi tak dikeluarkan segera, akan terjadi hipoksia (kekurangan oksigen), bahkan kematian janin.

* Pencegahan:

Proses persalinan dilakukan dengan cara dan peralatan yang steril mungkin, serta sedapat mungkin dibantu oleh tenaga medis.

INFEKSI PASCAPERSALINAN

Yang kerap terjadi adalah infeksi pada lapisan dalam rahim.

* Penyebab:

Kuman bakteri. Infeksi sesudah persalinan dapat ditemui pada endometrium atau lapisan dalam rahim. Infeksi dapat terjadi bila pertolongan persalinan tidak steril; kondisi daya tahan tubuh menurun sehingga kuman yang tadinya tidak menimbulkan penyakit jadi menimbulkan penyakit; banyaknya luka terbuka di rahim akibat lepasnya plasenta, sehingga bila ada satu dua kuman yang masuk ke dalam luka tersebut menimbulkan infeksi.

* Gejala Klinis:

Tergantung keganasan kumannya serta masa inkubasi. Bisa dalam hitungan jam atau hari. Gejalanya ada reaksi radang seperti suhu tubuh naik (panas tinggi) dan badan terasa nyeri, menggigil, nafsu makan menurun. Pada hari kedua mungkin timbul perlawanan antibodi-antigen. Kemudian keluarlah nanah yang berbau dari vagina/jalan lahir. Jika berlanjut, kuman bisa masuk dalam aliran darah dan terjadi sepsis sehingga harapan hidup si ibu kemungkinan sangat kecil.

* Diagnosis:

Ditegakkan berdasar gejala klinis pada ibu masa nifas, yaitu panas tinggi, lokhia berbau/nanah, denyut nadi cepat, rahim tidak berkontraksi secara adekuat.

* Pengobatan:

Di rawat di rumah sakit dengan pemberian infus/cairan yang adekuat, antibiotik yang sesuai, dan usahakan rahim berkontraksi.

* Pencegahan:

Persalinan diupayakan dengan cara sesteril mungkin. Dianjurkan pula ibu hamil untuk imunisasi terutama tetanus guna perlindungan saat pemotongan tali pusat dengan bayi. Setelah persalinan, karena terjadinya perdarahan, biasanya dokter memberikan obat-obatan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi. Meski ada juga dokter yang tidak memberikan obat-obatan antibiotik dengan anggapan bahwa luka yang diakibatkan persalinan adalah alami dan dapat sembuh sendiri. Selain itu, penggunaan antibiotika dianggap boros dan membuat kuman tertentu menjadi resisten.

Dedeh Kurniasih. Ilustrasi Dok. nakita

Narasumber:

Dr. Chamim, Sp.OG.,

dari RS Fatmawati Jakarta