Yang pasti rahim ibu dengan banyak anak (berarti kerap menjalani persalinan) mengalami makin banyak kerusakan.

Berapa sih tepatnya kategori terlalu banyak anak itu? Ternyata itu sangat individual dan tergantung kondisi rahim ibu. Ada ibu yang sudah melahirkan 5 anak, tapi kondisi rahimnya masih oke-oke saja. Namun ibu lain baru punya 2 anak namun rahimnya sudah perlu diangkat. Perlu diketahui kondisi rahim dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti jarak kehamilan (idealnya antara 2-4 tahun), ada tidaknya penyakit, seperti tumor di rahim, mioma, frekuensi melahirkan atau ada tidaknya riwayat keguguran berulang dan kehamilan kembar.

Nah, salah satu syarat agar kehamilan berjalan lancar adalah kondisi rahim yang baik. Dengan begitu calon embrio akan “menggelinding” dan menempel di segmen atas dinding rahim. Pada ibu yang kerap melahirkan, kondisi dinding rahimnya sudah tidak “sempurna” alias telah banyak yang “robek”. Masalahnya, si calon embrio enggan menempel pada kondisi rahim yang jelek. Lantaran itu ia akan “mencari” tempat yang lebih aman, yakni ke arah bawah mendekati mulut rahim. Padahal jika calon embrio terbentuk di situ, ibu berisiko mengalami plasenta previa (plasenta menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir sehingga proses persalinan harus dilakukan secara sesar). Harap diingat pada saat kehamilan, normalnya letak plasenta di rahim bagian atas.

Selanjutnya, kalau yang bersangkutan hamil kembali (misalnya karena penasaran ingin mendapat anak laki-laki, padahal sudah memiliki 4 anak perem-puan) maka kemungkinan besar calon embrio akan menempel pada dinding rahim yang sudah robek/jelek. Ini karena semakin berkurangnya tempat yang layak bagi calon embrio untuk menempel. Kalau sudah begitu, calon embrio berpeluang tidak menem-pel pada dinding rahim tapi ke otot rahim. Kondisi yang disebut dengan plasenta akreta ini bisa membuat ibu hamil mengalami perdarahan. Semakin besar usia kehamilan peluang untuk terja-dinya perdarahan akan meningkat karena janin semakin menembus otot rahim. Dalam kondisi normal seharusnya antara plasenta dan otot rahim ada lapisan Nitabuch yang mencegah plasentanya menempel pada otot rahim.

HARUS DIANGKAT

Bagaimana bila ibu hamil mengalami plasenta akreta. Berikut umumnya prosedur yang akan dijalani:

* Salah satu gejala plasenta akreta adalah perdarahan tanpa nyeri di awal-awal kehamilan. Dapat dideteksi dengan penggunaan USG mulai usia kehamilan 22 minggu.

* Jika perdarahan ringan, kehamilan bisa diteruskan dan ibu harus bedrest.

* Selama tak terjadi perdarahan, kehamilan dapat dilanjutkan hanya proses persalinan tidak memungkinkan untuk normal namun harus sesar. Setelah melahirkan rahim harus dibuang, sekalipun ibu baru punya satu anak.

* Jika perdarahan yang terjadi hebat maka kehamilan harus dihentikan dengan tindakan tertentu demi keselamatan ibu. Juga dilakukan operasi pengangkatan rahim.

BATASI JUMLAH ANAK

Risiko kehamilan dengan kelainan plasenta dapat diperkecil dengan cara:

* Jangan punya banyak anak. Cukup dua saja. Sebaiknya jarak untuk mempunyai anak antara 2-4 tahun.

* Jika anak pertama dan kedua lahir sesar sebaiknya tidak hamil lagi karena berisiko plasenta akreta.

* Hindari perilaku seks yang tak sehat. Hal ini meningkatkan angka infeksi di kandungan yang berisiko pada kerusakan dinding rahim.

Terlepas dari itu, risiko yang akan dihadapi ibu hamil (yang telah sering melahirkan) adalah sebuah teori. Masih ada faktor lain yang amat menentukan, yaitu kekuasaan Tuhan. Untuk itu, berserah diri dan selalu berdoa meminta yang terbaik amat disarankan selama menjalani kehamilan.