Pada 40 persen dari kelahiran prematur, penyebabnya sama sekali tidak diketahui. Namun para peneliti telah membuat terobosan dengan mempelajari penyebab terjadinya prematuritas. Studi menunjukkan bahwa kemungkinan ada empat penyebab utama yang menyebabkan terjadinya kelahiran secara prematur

  1. Infeksi/inflamasi (peradangan). Studi menunjukkan bahwa kelahiran prematur sering kali dipicu oleh respons alami kekebalan tubuh terhadap infeksi bakteri tertentu, seperti bakteri yang ada di alat genital dan saluran kencing serta membran janin. Bahkan infeksi yang terjadi jauh dari organ-organ reproduksi, seperti penyakit pada gigi, dapat menyebabkan terjadinya kelahiran prematur
  2. Stres pada bumil atau pada janin. Stres psikososial kronis pada bumil atau stres fisik (seperti kurangnya aliran darah dari plasenta) pada janin kelihatannya menyebabkan diproduksinya suatu hormon yang berhubungan dengan stress yang disebut hormon yang melepaskan corticotropin (Corticotropin Releasing Hormone). CRH akan merangsang diproduksi serangkaian hormon lain yang memicu kontraksi rahim dan menyebabkan terjadinya kelahiran prematur.
  3. Pendarahan. Rahim mengalami pendarahan yang disebabkan oleh berbagai masalah seperti lepasnya plasenta (plasenta terlepas, baik sebagian maupun hampir seluruhnya, dari dinding rahim sebelum proses kelahiran). Pendarahan memicu dilepasnya berbagai protein yang terlibat dalam proses pembekuan darah, yang kelihatannya juga merangsang terjadinya kontraksi rahim.
  4. Peregangan. Rahim dapat menjadi terlalu renggang karena adanya dua atau lebih janin, terlalu banyaknya cairan ketuban atau adanya ketidaknormalan pada rahim atau plasenta, yang menyebabkan terjadinya pelepasan bahan-bahan kimia yang merangsang kontraksi rahim.Penemuan adanya beberapa jalan yang dapat menyebabkan terjadinya kelahiran prematur dapat membantu untuk menjelaskan mengapa kelahiran prematur sulit sekali untuk dicegah. Namun sekarang para ilmuwan sudah dapat mengenali apa penyebab terjadinya kelahiran prematur, sehingga mereka dapat membuat metode intervensi yang lebih efektif untuk menghentikan berbagai aliran bahan kimia yang menyebabkan terjadinya kelahiran prematur. Namun pertama-tama mereka harus dapat mengidentifikasi perempuan mana yang membutuhkan perawatan ini. Perawatan untuk Kelahiran Prematur Apa yang terjadi bila seorang bumil memasuki proses kelahiran prematur dan proses tersebut tidak bisa berhenti dengan sendirinya? Meskipun bumil tersebut mungkin sudah dengan hati-hati mengikuti instruksi yang diberikan olehpetugas kesehatan, terkadang proses kelahiran prematur tetap berjalan. Terapi obat dan membatasi kegiatan adalah dua perawatan yang biasa diberikan pada bumil yang mengalami kelahiran prematur.Perawatan dengan obat
    Bumil yang mengalami kelahiran prematur seringkali menjalani pengobatan dengan salah satu dari jenis obat-obatan yang disebut tocolytics. Nama obat-obatan ini termasuk juga calcium channel blockers, terbutaline, ritodrine, magnesium sulfat, indomethacin, ketorolac dan sulindac. Obat-obatan ini dapat menghentikan kontraksi. Obat-obatan ini diberikan secara intravena, baik oral (diminum) maupun rektal (anus) tergantung pada jenis obat yang digunakan. Obat-obatan tocolytics dapat menunda kelahiran antara 2-7 hari, memberikan waktu ekstra untuk memberikan perawatan bagi bumil dengan obat-obatan steroid. Steroid (seperti betametason dan deksametason) akan mempercepat pertumbuhan paru-paru dan organ lainnya pada janin. Obat-obatan ini mengurangi kematian pada janin hingga 30 persen. Mereka juga mengurangi dua komplikasi paling serius yang biasa terjadi pada kelahiran prematur, sindrom stres pada saluran napas (dengan pengurangan hingga 50 persen) dan pendarahan di otak (hingga 70 persen). Waktu tambahan ini juga membuat para petugas kesehatan dapat memberikan perawatan antibiotika pada bumil untuk menjaga kalau-kalau bumil tersebut tengah mengalami infeksi atau untuk membawa bumil ke fasilitas kesehatan lain yang mempunyai peralatan lebih baik.Aktivitas Terbatas
    Beberapa petugas kesehatan merekomendasikan pada para bumil untuk membatasi kegiatan mereka agar tidak terjadi kelahiran prematur. Bedrest juga sering disarankan, meskipun bukti pada penelitian lain menunjukkan bahwa saran tersebut tidak efektif. Meskipun mengurangi kegiatan yang terlalu padat dapat membantu bumil untuk bersantai, bedrest tidak terbukti dapat mengurangi angka terjadinya kelahiran prematur.
    Rekomendasi yang diberikan sangat bervariasi. Pada beberapa bumil dianjurkan untuk beristirahat beberapa kali dalam sehari. Pada bumil yang lain disarankan untuk berbaring di tempat tidur. Ada juga petugas layanan kesehatan yang menyarankan pada para bumil untuk mengidentifikasi kegiatan yang dapat meningkatkan kontrasi dan menyarankan pada mereka untuk menghindari aktivitas tersebut.
    Kegiatan yang terbatas dapat mempengaruhi bumil secara fisik. Bumil akan mengalami kekenduran otot dan napas menjadi lebih pendek. Setelah melahirkan, ia perlu untuk memperbaiki kekuatan ototnya. Lamanya periode berbaring di tempat tidur juga meningkatkan risiko terjadinya pembekuan darah. Pada beberapa kasus tertentu, petugas layanan kesehatan akan merekomendasikan pada bumil untuk tidak berhubungan seks. Sementara bumil sedang bedrest, sebaiknya ia tidak diam saja tanpa melakukan gerakan apapun. Dengan panduan dari dokternya, bumil dapat melakukan peregangan dan gerakan santai lainnya.
    Dengan adanya pembatasan kegiatan, ada bumil yang merasa bosan, depresi atau merasa cemas; bumil yang lain merasa terisolasi. Bukan hal yang aneh bila bumil atau pasangannya merasa frustrasi, marah atau kesal. Ini adalah saatnya bagi pasangan untuk saling memberikan dukungan, cari bantuan dari luar bila mereka membutuhkannya dan cobalah untuk menemukan sisi lucu dari situasi yang tengah dihadapi.Seorang bumil mungkin akan merasa bersalah pada saat seperti ini. Bahkan meskipun ia telah melakukan segalanya agar bisa menjalani kehamilan yang sehat, seorang bumil mungkin akan bertanya-tanya, ”Dimana letak kesalahanku?” Berbicara dengan seorang penasihat profesional, penasihat spiritual atau bumil lain yang sudah pernah mengalami situasi yang sama dapat sangat membantu dalam menghadapi situasi sulit seperti ini.
    Pada bumil yang tidak dapat bekerja karena kegiatan mereka harus dibatasi, keluarga mungkin akan merasakan akibat finansialnya. Dalam keluarga, peran dan tanggun jawab akan berubah. Perawatan anak, penyajian makanan dan kegiatan rumah tangga lainnya mungkin harus dikelola dengan cara yang berbeda. Keluarga dan kawan-kawan dapat melakukan berbagai hal, menyediakan makanan dan merawat anak-anak. Akan sangat membantu untuk ”membagi beban” pada jaringan pendukung yang dimiliki oleh bumil. Bumil yang tinggal sendirian akan membutuhkan bantuan tambahan pada masa-masa seperti ini.Tetap Menjaga Kesibukan
    Meskipun kegiatan dikurangi, akan sangat membantu bila bumil tetap memiliki kegiatan, di bawah panduan dari petugas layanan kesehatan. Pada beberapa bumil, ini adalah saat yang tepat untuk melakukan berbagai hal yang sudah lama sekali ingin mereka lakukan. Mereka mungkin bisa bekerja dari rumah. Ada yang membayar tagihan, membaca buku untuk dirinya sendiri atau untuk anak-anak mereka, menjahit, main game, menulis buku harian atau menggunakan komputer untuk menghabiskan waktu. Banyak bumil yang senang sekali menerima kunjungan dari kawan-kawannya. Bumil harus berbicara dengan petugas layanan kesehatannya sebelum melakukan aktivitas apapun.
    Untuk meminimalisir gerakan, akan sangat membantu bila semua yang dibutuhkan oleh bumil disiapkan untuk berada di sekitarnya (misalnya, obat-obatan, makanan dan minuman, pesawat telepon, bahan bacaan, komputer, radio atau TV).

    Perawatan di Rumah Sakit
    Tergantung pada keadaan, petugas layanan kesehatan akan merekomendasikan apakah bumil perlu dirawat di rumah sakit. Bila bumil dirawat selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, kekhawatiran yang sama akan timbul seperti bila ia harus melakukan kegiatan secara terbatas di rumah.

    Sumber:
    Sidelines National Support Network memberikan bantuan pada para perempuan yang mengalami kelahiran prematur.
    Artikel ini ditulis berdasarkan sebagian dari Buletin Praktek ACOG, nomor 43 (Mei 2003) yang diterbitkan oleh American College of Obstetricians and Gynecologists